Entri yang Diunggulkan

Sebuah opini Cuaca panas pas lagi puasa itu enaknya tidur atau minimal liat sesuatu yg bikin adem. Esensi dari puasa itu sendiri adalah me...

Selasa, 29 Mei 2018

Sebuah opini

Cuaca panas pas lagi puasa itu enaknya tidur atau minimal liat sesuatu yg bikin adem. Esensi dari puasa itu sendiri adalah menahan. Menahan nafsu terutama. Tapi gimana kalau ada yg nyenggol emosi kita? Hadehhh rasanya pengen lemparin kandang macan aja, tapi lagi puasa.

Inilah yg terjadi beberapa hari belakangan. Terutama di dunia maya. (Emang ada aposeh?). Di dumay terutama twitter kalau yg rajin ngeliat trendingnya pasti tau kalau selama beberapa hari ini ada satu tulisan yg sering banget kita liat " Bumi Manusia". Tiga hari berturut-turut merajai trending topik twitter. What happened?

Ya selama beberapa hari sejak presscon rencana pembuatan film Bumi Manusia di twiter rame ttg itu. Terjadi perdebatan nasional mengenai pro dan kontra pembuatan filmnya. Tapi gua gak mau bahas ini. Karena gua udah pernah bahas sebelumnya. Hhhha

Yg jadi perhatian gua adalah munculnya satu komentar dari netizen, sebut saja kuskus. Jadi si kuskus ini (gua gak tau gendernya apa, umurnya berapa, mukanya kayak gimana, cakep apa kagak, biasnya siapa, hedeehh che cukup che) komentar di salah satu platform yg isinya lumayan bikin bingung. Bingung harus memperlakukan dia kayak gimana? Apakah harus mendiamkannya? Atau harus melemparnya ke pluto? :"

Dengan polos bin lugu dia bertanya siapa sih Pramoedya? Mungkin kalau dia cuma komen itu netizen seantero dumay gak bakal ngamuk ya. Lah ini pake ada tambahan "Penulis baru". Hadehhh rasanya pengen panggil Thanos aja biar dia dimusnahkan.

Tapi gua inget gua lagi puasa. Sabar che sabar... orang sabar jodohnya dekat (lupakan). Gua berusaha buat positif thinking. Dia anak baru gede, wajar kalau dia gak tau siapa itu Pram, karena sejauh ini di pelajaran Bahasa Indonesia karya yg sering dipakai itu karyanya Chairil Anwar, Agus R Sadjono, Ahmad Tohari, Armijn Pane. Itu pun gua gak yakin anak2 sekarang pada tau karya mereka selain yg ada di buku Bahasa Indonesia.

Pertanyaannya, sebegitu parahkah pendidikan kita? Sebegitu menakutkan kah kata literasi bagi para siswa? Sesulit itukah membaca bagi para siswa, sampai hal seperi itu pun mereka malas cari tahu.

Anak2 generasi Z, yg punya akses gampang buat masuk ke dunia luar melalui teknologi. Melupakan bahwa sebenarnya cara termudah buat jadi pintar adalah dengan baca. Orang yg rajin baca wawasannya akan luas. Orang yg wawasannya luas udah pasti gampang banget diterima di masyarakat. Mereka lebih open minded dan lebih gampang memecahkan masalah. Permasalahannya adalah...
Anak-anak sekarang lebih senang baca status, liat stories orang, main game, dan lain-lain dibanding baca. Padahal gerakan literasi sedang digalakkan, tujuannya ya untuk meningkatkan minat baca. Ya minat baca masyarakat kita tergolong rendah.

Hasil penelitian yang dilakukan Tim Program of International Student Assessment (PISA) Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas (2003) menyatakan bahwa “Kemahiran membaca anak usia 15 tahun di Indonesia sangat memprihatinkan. Sekitar 37,6 persen hanya bisa membaca tanpa bisa menangkap maknanya dan 24,8 persen hanya bisa mengaitkan teks yang dibaca dengan satu informasi pengetahuan.”

Minat Baca para siswa di Indonesia sangat rendah dilihat dari data. Muchlas (2000) menyatakan bahwa “Minat baca para siswa betul-betul jeblok yaitu siswa SD menduduki urutan ke 38 dan siswa SLTP urutan ke 34 dari 39 negara”.

Kalau udah kayak gini siapa yang disalahkan? Siapa yg bertanggung jawab? Jawabannya

KITA

Kita sebagai panutan (mungkin) bagi mereka sudah seharusnya bisa mengajak bahkan mungkin sedikit memaksa mereka untuk mau membaca. Tujuannya ya untuk mereka sendiri.

Emang gak gampang mengajak mereka mau membaca. Apalagi kalau bacaannya cukup berat. Tapi bukan berarti kita kehilangan akal untuk mengajak mereka membaca. Hal itu bisa dimulai dari mengajak mereka membaca hal-hal yg sedang jadi trend di dunia mereka. Mungkin sedikit sulit, tapi bukan berarti gak bisa sama sekali kan?

Minggu, 27 Mei 2018

Daun pintu usang

Daun pintu usang
Berdenyit menjerit
Memaki setiap tangan yang membukanya
Seorang gadis kedinginan di bawah guyuran hujan
Melirik ke daun pintu usang
Untuk mencari kehangatan di dalamnya

Daun pintu usang
Berdenyit menjerit
Memaki siapa saja yg mendorongnya
Seorang pria tua yg sedang kerepotan membetulkan cangkulnya yg rusak ketika mau menanam
Menoleh ke arahnya, berharap ada sesuatu di baliknya

Daun pintu usang
Berdenyit menjerit
Memaki siapa saja yg datang merayu
Agar ia mau terbuka

Jumat, 25 Mei 2018

Yang kurindu dari hadirmu itu bukan wajahmu
Tetapi debar jantungku saat kutatap senyummu

Tentang Bumi Manusia

Dari semalam pikiran gua terus diganggu sama pemberitaan2 ttg Mas Hanung yg berniat membawa Bumi Manusia ke layar lebar. Hmmm

Oke
Gua mencoba berpikir positif tentang keputusan Hanung memfilmkan Bumi Manusia.

Sebelumnya izinkan gua menyampaikan pemikiran gua, apa yg gua tau ttg roman itu, Ekspektasi gua, Sampai dengan kenapa gua kecewa.

Seperti yg pernah gua tulis sebelumnya si sulung dari Tetralogi Buru ini berat, banyak ideologi yg disampaikan mulai dari sosialisme sampai liberalisme.

Bukan ttg romansanya, bukan sama sekali. Percayalah romantisme dalam buku ini emang bikin hanyut. Tapi yg bikin gua jatuh cinta sama buku ini adalah pemikiran2 Pram yg ahh... susah diungkapkan :)

Sosok Minke yg cerdas, supel, bijak, dan yg pasti jawa tulen. Gua ngebayanginnya sebagai sosok pemuda jawa yg klimis, hitam manis, gak ganteng, tapi punya daya tarik sendiri. Kecerdasannya yg bikin banyak orang tertarik padanya. Fyi banyak yg percaya Minke adalah sosok RM Tirto Adhi Soerjo.

Ada lagi sosok Nyai Ontosoroh, menurut gua sosok ini sangat menyihir. Wanita jawa, seorang selir yg pikirannya modern. Amat menyayangi anak2nya. Seorang istri yg tidak diakui secara hukum dan agama. Namun, tetap setia pada suami yg amat sangat dibencinya. Kontras emang, tapi itulah Nyai Ontosoroh. Sikapnya itu yg bikin gua tersihir.

Anneliese Meleima,  gadis Indo yg manja, cantik, juga berani. Lagi2 sosok kontras, tapi begitulah Pram, menggambarkan tokoh2nya dengan cerdas dan susah dipahami.

Dan...
Ketika gua tau karya itu bakal difilmkan, jujur udah bertahun2 lalu gua tau dan gua cukup excited menantinya. Tapi semakin gua mendalami ceritanya, semakin gua gak yakin sama pemikiran gua. GUA MULAI RAGU. Ragu dan takut tepatnya. Gimana gak, roman ini ditulis susah payah sama Pram, fyi buku ini pernah dibredel di zaman orba. Karena dianggap gak sesuai sama ideologi bangsa.

Tapi disamping itu, roman ini mendapat banyak apresiasi dan juga penghargaan dari dunia Internasional. Bahkan nyaris mendapat Nobel Sastra.

Mungkin ini yg menjadikan Bumi Manusia ini menjadi sakral buat para penikmat sastra kayak gua. Tapi sekarang gua mencoba untuk berlaku adil sejak dalam pikiran. Gua mencoba untuk menerima segala usaha yg dilakukan Hanung dalam pembuatan filmnya.  Termasuk menerima para castnya. Ini akan menjadi pertaruhan besar buat mereka, terutama buat pemeran Minke. Apakah bisa membawa sosok Minke? Kita tunggu saja.