Sebuah opini
Cuaca panas pas lagi puasa itu enaknya tidur atau minimal liat sesuatu yg bikin adem. Esensi dari puasa itu sendiri adalah menahan. Menahan nafsu terutama. Tapi gimana kalau ada yg nyenggol emosi kita? Hadehhh rasanya pengen lemparin kandang macan aja, tapi lagi puasa.
Inilah yg terjadi beberapa hari belakangan. Terutama di dunia maya. (Emang ada aposeh?). Di dumay terutama twitter kalau yg rajin ngeliat trendingnya pasti tau kalau selama beberapa hari ini ada satu tulisan yg sering banget kita liat " Bumi Manusia". Tiga hari berturut-turut merajai trending topik twitter. What happened?
Ya selama beberapa hari sejak presscon rencana pembuatan film Bumi Manusia di twiter rame ttg itu. Terjadi perdebatan nasional mengenai pro dan kontra pembuatan filmnya. Tapi gua gak mau bahas ini. Karena gua udah pernah bahas sebelumnya. Hhhha
Yg jadi perhatian gua adalah munculnya satu komentar dari netizen, sebut saja kuskus. Jadi si kuskus ini (gua gak tau gendernya apa, umurnya berapa, mukanya kayak gimana, cakep apa kagak, biasnya siapa, hedeehh che cukup che) komentar di salah satu platform yg isinya lumayan bikin bingung. Bingung harus memperlakukan dia kayak gimana? Apakah harus mendiamkannya? Atau harus melemparnya ke pluto? :"
Dengan polos bin lugu dia bertanya siapa sih Pramoedya? Mungkin kalau dia cuma komen itu netizen seantero dumay gak bakal ngamuk ya. Lah ini pake ada tambahan "Penulis baru". Hadehhh rasanya pengen panggil Thanos aja biar dia dimusnahkan.
Tapi gua inget gua lagi puasa. Sabar che sabar... orang sabar jodohnya dekat (lupakan). Gua berusaha buat positif thinking. Dia anak baru gede, wajar kalau dia gak tau siapa itu Pram, karena sejauh ini di pelajaran Bahasa Indonesia karya yg sering dipakai itu karyanya Chairil Anwar, Agus R Sadjono, Ahmad Tohari, Armijn Pane. Itu pun gua gak yakin anak2 sekarang pada tau karya mereka selain yg ada di buku Bahasa Indonesia.
Pertanyaannya, sebegitu parahkah pendidikan kita? Sebegitu menakutkan kah kata literasi bagi para siswa? Sesulit itukah membaca bagi para siswa, sampai hal seperi itu pun mereka malas cari tahu.
Anak2 generasi Z, yg punya akses gampang buat masuk ke dunia luar melalui teknologi. Melupakan bahwa sebenarnya cara termudah buat jadi pintar adalah dengan baca. Orang yg rajin baca wawasannya akan luas. Orang yg wawasannya luas udah pasti gampang banget diterima di masyarakat. Mereka lebih open minded dan lebih gampang memecahkan masalah. Permasalahannya adalah...
Anak-anak sekarang lebih senang baca status, liat stories orang, main game, dan lain-lain dibanding baca. Padahal gerakan literasi sedang digalakkan, tujuannya ya untuk meningkatkan minat baca. Ya minat baca masyarakat kita tergolong rendah.
Hasil penelitian yang dilakukan Tim Program of International Student Assessment (PISA) Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas (2003) menyatakan bahwa “Kemahiran membaca anak usia 15 tahun di Indonesia sangat memprihatinkan. Sekitar 37,6 persen hanya bisa membaca tanpa bisa menangkap maknanya dan 24,8 persen hanya bisa mengaitkan teks yang dibaca dengan satu informasi pengetahuan.”
Minat Baca para siswa di Indonesia sangat rendah dilihat dari data. Muchlas (2000) menyatakan bahwa “Minat baca para siswa betul-betul jeblok yaitu siswa SD menduduki urutan ke 38 dan siswa SLTP urutan ke 34 dari 39 negara”.
Kalau udah kayak gini siapa yang disalahkan? Siapa yg bertanggung jawab? Jawabannya
KITA
Kita sebagai panutan (mungkin) bagi mereka sudah seharusnya bisa mengajak bahkan mungkin sedikit memaksa mereka untuk mau membaca. Tujuannya ya untuk mereka sendiri.
Emang gak gampang mengajak mereka mau membaca. Apalagi kalau bacaannya cukup berat. Tapi bukan berarti kita kehilangan akal untuk mengajak mereka membaca. Hal itu bisa dimulai dari mengajak mereka membaca hal-hal yg sedang jadi trend di dunia mereka. Mungkin sedikit sulit, tapi bukan berarti gak bisa sama sekali kan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar